BAB
IV
PROBLEMA
TIGA TITIK
4.1. Dasar Teori
Pada
prinsipnya sebuah bidang dapat digambarkan dari sebuah titik dan sebuah garis,
atau tiga buah titik. Dalam pengertian geologi titik ini dapat berupa
singkapan, sehingga kedudukan batuan dan penyebarannya pada peta dapat
diketahui.
4.2. Syarat Pengukuran Problema
Tiga Titik
1. Memilikipenampang
horizontal dan penampang vertical
2. Memiliki
Selisih ketinggian jurus
3. Diketahuinya
Dip
4.3.
Defenisi Beberapa Proyeksi
Proyeksi merupakan
suatu metode atau langkah untuk menggambarkan suatu bentuk tertentu menjadi
bentuk yang lain dengan cara atau langkah yang tertentu dalam satu bidang atau
garis yang disebut sebagai bidang proyeksi atau garis proyeksi.
Dalam dunia geologi
struktur yang penuh dengan analisa unsur titik, garis, bidang, dan sudut bahkan
perpotongan dan kombinasi antara keempatnya, diperlukan berbagai metode yang
dapat digunakan untuk menganalisa unsur-unsur tersebut secara lebih mudah dan
praktis serta memberikan hasil yang akurat demi efisiensi kerja namun dengan
hasil yang maksimal. Untuk itu, muncullah suatu metode analisa yang cukup
praktis dan mudah untuk mengaplikasikannya dalam analisa struktur geologi,
yaitu metode Proyeksi Stereografis.
v Macam-Macam Proyeksi Stereografis
Proyeksi stereografis
terdiri dari beberapa macam, antara lain :
1. Equal Angle Projection
2. Equal Area Projection
3. Orthogonal Projection
4. Polar Projection
Masing-masing dari proyeksi stereografis ini memiliki ciri dan hasil
proyeksi yang berbeda-beda, namun dalam analisa geometri struktur geologi, tak
jarang dibutuhkan kombinasi dari keempatnya untuk menghasilkan analisa geometri
yang akurat dan lebih praktis.
1.
Equal Angle Projection
Proyeksi ini pada
dasarnya memproyeksikan setiap titik pada permukaan bola ke bidang proyeksi
pada suatu tutuk zenith yang terletak
pada sumbu vertikal melalui pusat bola bagian puncak. Bidang-bidang dengan
sudut yang sama akan digambarkan semakin rapat ke arah pusat. Hasil
penggambaran pada bidang proyeksi disebut sebagai stereogram. Hasil dari equal angle
projection adalah Wulff Net.


Gambar 4.1. Wulff Net hasil dari equal
angle projection
2.
Equal Area Projection
Proyeksi ini lebih umum
digunakan dalam analisis data statistik karena kerapatan hasil ploting menunjukkan keadaan yang
sebenarnya. Proyeksi equal area
merupakan proyeksi yang akan menghasilkan jarak titik pada bidang proyeksi yang
sama dan sebanding dengan sebenarnya. Hasil dari equal area projection
adalah suatu stereogram yang disebut
dengan Schmidt Net.
![]() |

Gambar 4.2. Schmidt Net hasil dari equal
area projection.
3. Orthogonal
Projection
Proyeksi ini merupakan
kebalikan dari equal angle projection
karena pada proyeksi ortogonal, titik-titik pada permukaan bola akan
diproyeksikan tegak lurus pada bidang proyeksi dan lingkaran hasil proyeksi
akan semakin renggang ke arah pusat. Stereogram
dari proyeksi ortogonal disebut sebagai Orthographic
Net
4. Polar
Projection
Pada proyeksi ini, baik
unsur garis maupun bidang tergambar sebagai suatu titik. Stereogram dari proyeksi kutub ini adalah Polar Net atau Billings Net.
Polar Net ini diperoleh dari equal area projection, sehingga apabila
ingin mendapatkan proyeksi bidang dari suatu titik pada Polar Net, harus menggunakan Schmidts
Net.


Gambar
4.3.Kemiringan Semu Dari Kedudukan Sebenarnya Dengan Menggunakan Proyeksi
Stereografis
(Lab Geologi Struktur, ITM)


Gambar 4.4. Proyeksi Stereografis
Untuk Struktur Bidang (Lab Geologi Struktur, ITM)
![]() |
Gambar 4.5. Proyeksi Stereografis
Untuk Struktur Garis (Lab Geologi Struktur, ITM)
4.4. Alat dan Bahan
4.4.1.
Alat
1. Busur
2. Alat Tulis Lengkap
3. Pensil Warna
4. Jangka
4.4.2.
Bahan
1.
Form Deskripsi
4.5.
Prosedur Kerja
Contoh
Soal 1 :
Diketahui tiga titik, masing-masing A
ketinggian 200 m, B ketinggian 150 m dan C ketinggian 100 m. Ketiga titik
tersebut terletak pada bidang PQRS. Tentukan kedudukan bidang PQRS.
Jawab :
a. Gambarkan
penampang horizontal notasi ketiga titik tersebut sesuai data yang ada yaitu
AC’B’
b. Gambarkan
penampang vertikalnya sesuai dengan ketinggian, yaitu A’CB
c. Dari
lokasi B tarik garis horizontal sehingga memotong A’C di B’’
d. Gambarkan
proyeksi horizontal di titik B’, yaitu tarik garis vertikal dari B’’ sehingga
memotong AC’ di E
e. Hubungkan
B’ dengan E, garis B’ E merupakan jurus bidang PQRS pada ketinggian 150 m
f. Jurus
ketinggian 200 m merupakan garis melalui A dan sejajar B’ E, begitu juga untuk
yang 100 m harus melalui C’
g. Buatlah
kemiringannya dengan menggunakan selisih ketinggian jurus
h. Ketinggian
bidang PQRS dan dibaca, yaitu N X0 E/α0
![]() |
Gambar
4.6. Kedudukan Bidang Problema Tiga Titik
Contoh soal 1 :
Suatu peneliti yang dilakukan di
siborong-borong dengan medan tidak berelief
dengan ketinggian 800 m dilakukan pengeboran vertical pada 3 titik yaitu A, B,
& C. Jarak A ke B 500 m dengan arah N 2350E, jarak dari B ke C
900 m dengan arah N 1000E. Pada titik A dengan kedalaman 350 m
ditemukan batupasir, pada titik C dengan kedalaman 600 m juga ditemukan
batupasir.
Tentukan kedudukan batupasir tersebut
dengan skala 1:10.000.
Jawaban
: N 790E/370
![]() |
Gambar 4.7.
Deskripsi Poblema Tiga Titik (Lab Geoologi Struktur, ITM)


Gambar 4.8.
Perhitungan Poblema Tiga Titik (Lab Geoologi Struktur, ITM)
4.6.
Kesimpulan
Proyeksi merupakan
suatu metode atau langkah untuk menggambarkan suatu bentuk tertentu menjadi
bentuk yang lain dengan cara atau langkah yang tertentu dalam satu bidang atau
garis yang disebut sebagai bidang proyeksi atau garis proyeksi.
Proyeksi stereografis
terdiri dari beberapa macam, antara lain :
1. Equal Angle Projection
2. Equal Area Projection
3. Orthogonal Projection
4. Polar Projection
Masing-masing dari proyeksi stereografis ini memiliki ciri dan hasil
proyeksi yang berbeda-beda, namun dalam analisa geometri struktur geologi, tak
jarang dibutuhkan kombinasi dari keempatnya untuk menghasilkan analisa geometri
yang akurat dan lebih praktis.



