Jumat, 01 Februari 2013

BAB IV

BAB IV
PROBLEMA TIGA TITIK

4.1. Dasar Teori
Pada prinsipnya sebuah bidang dapat digambarkan dari sebuah titik dan sebuah garis, atau tiga buah titik. Dalam pengertian geologi titik ini dapat berupa singkapan, sehingga kedudukan batuan dan penyebarannya pada peta dapat diketahui.
4.2. Syarat Pengukuran Problema Tiga Titik
1.      Memilikipenampang horizontal dan penampang vertical
2.      Memiliki Selisih ketinggian jurus
3.      Diketahuinya Dip
4.3. Defenisi Beberapa Proyeksi
Proyeksi merupakan suatu metode atau langkah untuk menggambarkan suatu bentuk tertentu menjadi bentuk yang lain dengan cara atau langkah yang tertentu dalam satu bidang atau garis yang disebut sebagai bidang proyeksi atau garis proyeksi.
Dalam dunia geologi struktur yang penuh dengan analisa unsur titik, garis, bidang, dan sudut bahkan perpotongan dan kombinasi antara keempatnya, diperlukan berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisa unsur-unsur tersebut secara lebih mudah dan praktis serta memberikan hasil yang akurat demi efisiensi kerja namun dengan hasil yang maksimal. Untuk itu, muncullah suatu metode analisa yang cukup praktis dan mudah untuk mengaplikasikannya dalam analisa struktur geologi, yaitu metode Proyeksi Stereografis.
·           Stereographic Projection
Menurut Ragan (1985), proyeksi stereografis adalah gambaran dua dimensi atau proyeksi dari permukaan sebuah bola sebagai tempat orientasi geometri bidang dan garis. Dengan demikian, proyeksi stereografis adalah suatu metode proyeksi dengan bidang proyeksi berupa permukaan setengah bola. Biasanya, yang dipakai adalah permukaan setengah bola bagian bawah (lower hemisphere). Proyeksi stereografis dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri berupa besaran arah dan sudut dalam analisa geomoetri struktur geologi karena proyeksi ini dapat menggambarkan geometri kedudukan atau orientasi bidang dan garis dalam bidang proyeksi yang digunakan.
v  Macam-Macam Proyeksi Stereografis
Proyeksi stereografis terdiri dari beberapa macam, antara lain :
1. Equal Angle Projection
2. Equal Area Projection
3. Orthogonal Projection
4. Polar Projection
Masing-masing dari proyeksi stereografis ini memiliki ciri dan hasil proyeksi yang berbeda-beda, namun dalam analisa geometri struktur geologi, tak jarang dibutuhkan kombinasi dari keempatnya untuk menghasilkan analisa geometri yang akurat dan lebih praktis.
1. Equal Angle Projection
Proyeksi ini pada dasarnya memproyeksikan setiap titik pada permukaan bola ke bidang proyeksi pada suatu tutuk zenith yang terletak pada sumbu vertikal melalui pusat bola bagian puncak. Bidang-bidang dengan sudut yang sama akan digambarkan semakin rapat ke arah pusat. Hasil penggambaran pada bidang proyeksi disebut sebagai stereogram. Hasil dari equal angle projection adalah Wulff Net.
Gambar 4.1. Wulff Net hasil dari equal angle projection
2. Equal Area Projection
Proyeksi ini lebih umum digunakan dalam analisis data statistik karena kerapatan hasil ploting menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Proyeksi equal area merupakan proyeksi yang akan menghasilkan jarak titik pada bidang proyeksi yang sama dan sebanding dengan sebenarnya. Hasil dari equal area projection adalah suatu stereogram yang disebut dengan Schmidt Net.


 
Gambar 4.2. Schmidt Net hasil dari equal area projection.

3. Orthogonal Projection
Proyeksi ini merupakan kebalikan dari equal angle projection karena pada proyeksi ortogonal, titik-titik pada permukaan bola akan diproyeksikan tegak lurus pada bidang proyeksi dan lingkaran hasil proyeksi akan semakin renggang ke arah pusat. Stereogram dari proyeksi ortogonal disebut sebagai Orthographic Net


4. Polar Projection
Pada proyeksi ini, baik unsur garis maupun bidang tergambar sebagai suatu titik. Stereogram dari proyeksi kutub ini adalah Polar Net atau Billings Net. Polar Net ini diperoleh dari equal area projection, sehingga apabila ingin mendapatkan proyeksi bidang dari suatu titik pada Polar Net, harus menggunakan Schmidts Net.

Description: C:\Users\Kom-6\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto003.jpg
Gambar 4.3.Kemiringan Semu Dari Kedudukan Sebenarnya Dengan Menggunakan Proyeksi
                          Stereografis (Lab Geologi Struktur, ITM)

Description: C:\Users\Kom-6\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto004.jpg
Gambar 4.4. Proyeksi Stereografis Untuk Struktur Bidang (Lab Geologi Struktur, ITM)


Description: C:\Users\Kom-6\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto002.jpg
 


















Gambar 4.5. Proyeksi Stereografis Untuk Struktur Garis (Lab Geologi Struktur, ITM)


4.4. Alat dan Bahan
4.4.1. Alat
            1. Busur
            2. Alat Tulis Lengkap
            3. Pensil Warna
            4. Jangka
4.4.2. Bahan
            1. Form Deskripsi

4.5. Prosedur Kerja
Contoh Soal 1 :
Diketahui tiga titik, masing-masing A ketinggian 200 m, B ketinggian 150 m dan C ketinggian 100 m. Ketiga titik tersebut terletak pada bidang PQRS. Tentukan kedudukan bidang PQRS.
Jawab :
a.       Gambarkan penampang horizontal notasi ketiga titik tersebut sesuai data yang ada yaitu AC’B’
b.      Gambarkan penampang vertikalnya sesuai dengan ketinggian, yaitu A’CB
c.       Dari lokasi B tarik garis horizontal sehingga memotong A’C di B’’
d.      Gambarkan proyeksi horizontal di titik B’, yaitu tarik garis vertikal dari B’’ sehingga memotong AC’ di E
e.       Hubungkan B’ dengan E, garis B’ E merupakan jurus bidang PQRS pada ketinggian 150 m
f.       Jurus ketinggian 200 m merupakan garis melalui A dan sejajar B’ E, begitu juga untuk yang 100 m harus melalui C’
g.      Buatlah kemiringannya dengan menggunakan selisih ketinggian jurus
h.      Ketinggian bidang PQRS dan dibaca, yaitu N X0 E/α0







 











Gambar 4.6. Kedudukan Bidang Problema Tiga Titik
Contoh soal 1 :
Suatu peneliti yang dilakukan di siborong-borong dengan medan tidak berelief dengan ketinggian 800 m dilakukan pengeboran vertical pada 3 titik yaitu A, B, & C. Jarak A ke B 500 m dengan arah N 2350E, jarak dari B ke C 900 m dengan arah N 1000E. Pada titik A dengan kedalaman 350 m ditemukan batupasir, pada titik C dengan kedalaman 600 m juga ditemukan batupasir.
Tentukan kedudukan batupasir tersebut dengan skala 1:10.000.
Jawaban : N 790E/370


Description: C:\Users\Kom-6\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto005.jpg







Gambar 4.7. Deskripsi Poblema Tiga Titik (Lab Geoologi Struktur, ITM)

Description: C:\Users\Kom-6\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto006.jpg











Gambar 4.8. Perhitungan Poblema Tiga Titik (Lab Geoologi Struktur, ITM)

4.6. Kesimpulan
Proyeksi merupakan suatu metode atau langkah untuk menggambarkan suatu bentuk tertentu menjadi bentuk yang lain dengan cara atau langkah yang tertentu dalam satu bidang atau garis yang disebut sebagai bidang proyeksi atau garis proyeksi.
Proyeksi stereografis terdiri dari beberapa macam, antara lain :
1. Equal Angle Projection
2. Equal Area Projection
3. Orthogonal Projection
4. Polar Projection
Masing-masing dari proyeksi stereografis ini memiliki ciri dan hasil proyeksi yang berbeda-beda, namun dalam analisa geometri struktur geologi, tak jarang dibutuhkan kombinasi dari keempatnya untuk menghasilkan analisa geometri yang akurat dan lebih praktis.